Petasan atau mercon adalah
peledak berupa bubuk kimia yang dikemas dalam beberapa lapis kertas,
biasanya bersumbu, berdaya ledak rendah
atau low explosive dan dapat meledak pada kondisi suhu tertentu.
Petasan atau mercon biasanya
di gunakan untuk memeriahkan peristiwa tertentu seperti tahun
baru,perkawinan,peringatan agama maupun peristiwa bersejarah lainnya tidak
terkecuali bulan ramadhan,bulan yang penuh hikmah bagi kaum muslimin.
Meskipun berdaya
ledak rendah sebenarnya petasan ini cukup membahayakan dan meresahkan orang di
sekitarnya.Coba saja search atau browsing di google dengan kata kunci ‘Korban
Petasan’,Maka anda akan menemukan berbagai macam informasi tragis tentang
korban ledakan petasan atau mercon tersebut.
Petasan ini pula
yang menyebabkan beberapa hari sejak awal ramadhan ini sudah mulai meresahkan warga.
Setiap sore hingga malam ramadhan, di tempat tinggal kami, dipenuhi dengan
suasana yang hiruk pikuk berupa berbagai macam ledakan petasan mulai dari skala
kecil hingga skala yang hampir merenggut hak daun telinga untuk tetap bertengger pada posisinya secara sempurna..
Anakku,Iftina assyabiya rofifa, yang masih
berumur dua bulan ikut merasakan dampak negative dari petasan tersebut.Setiap sore hingga malam
dia gak bisa tidur nyenyak karena bunyi ledakan yang bertubi-tubi.Alhasil,aku
dan istriku harus bekerjasama ,berkoalisi untuk menutupi telinga anak kami
menggunakan kain yang berlapis supaya bunyi petasan itu dapat di redam oleh
tebalnya kain tersebut.
Dalam suasana yang
genting ,di tengah permainan petasan yang sedang berkecamuk,di tengah pertempuran
sengit yang di lakukan oleh anak-anak yang sedang asyik tersebut ,Dalam hatiku
sempat berfikir,” Masih Beruntung gelombang bunyi hasil ledakannya tidak
menjadikan tempat tinggal kami hancur lebur seperti Hiroshima dan Nagasaki,atau
ledakan reactor nuklir di
Chernobly di ukraina yang sangat terkenal itu,atau ledakan kecil bom buku
beberapa waktu lalu atau ledakan akibat meteor jatuh di rusia baru-baru ini
yang mengakibatkan hampir 1200 orang terpaksa harus di evakuasi,atau dan atau
seterusnya yang membuat stok kesabaranku kian bertambah sehingga dapat meluangkan hati untuk sedikit legowo dengan keadaan tersebut.
Tidak hanya sampai di situ
,para jamaah masjid yang sedang menunaikan ibadah shalat tarawih di mesjid juga
tidak luput dari dampak negatif dari permainan yang membahayakan ini.Konsentrasi
ibadah bisa saja terganggu,apalagi anak-anak banyak yang tidak ikut sholat
tarawih karena asyik bermain petasan.
Menurut hematku Kalau di
urai dari pangkal hingga akhir,petasan ini lebih banyak membawa mudhorat
ketimbang manfaat.Namun untuk menghilangkan peredaran petasan dari pasaran
bukanlah hal yang mudah.Setiap pihak seperti penjual,pembeli,anak-anak,dan orang
tua punya alasan sesuai versi masing-masing yang mengakibatkan petasan menjadi
juara bertahan di banding produk lain di pasaran terutama di hari-hari besar
seperti ramadhan seperti saat sekarang ini.
Penjual akan beralasan
bahwa berjualan petasan adalah peluang usaha yang menjanjikan yang bisa menambah
penghasilannya.Apalagi di perparah oknum pedagang ngeyel yang akan mengatakan dengan
memutarbalikkan istilah agama,berjualan petasan “membawa berkah tersendiri”.
Berkah bagaimana lha wong
banyak timbul korban kok berkah.ada yang jari tangannya putus,gendang telinga
rusak ,bahkan pernah kejadian tidak jauh dari tempat tinggalku terjadi tawuran
antar desa akibat permainan berbahaya yang bernama petasan ini.
Belum lagi anak-anak yang
memang pada masa nya sedang asyik untuk bermain.Film perang dan aksi kekerasan
di tv yang luput dari lembaga sensor semakin menambah semangatnya untuk minta
di belikan petasan.Kalau sudah anak yang minta,meskipun agak berbahaya,biasanya
para orang tua akan memenuhi permintaan anaknya tersebut.
Hal ini wajar,karena pada
umumnya logika orang tua di butakan oleh rasa kasih sayang terhadap anaknya.Kalau
sudah begini ya klop deh.mek bedunduk,istilah kami.
Lalu apa solusi terbaik
agar petasan ini bisa di tarik peredarannya dari pasaran? Apakah hanya terbatas
dari aksi nyata dari petugas kepolisian untuk merazia? Itu sudah sering di
lakukan.Pihak kepolisian tidak dapat mengatasi masalah ini tanpa ada kesadaran
dari semua pihak.
Hendaknya selain merazia
,polisi juga bekerja sama dengan pemerintahan setempat untuk memberikan
pengarahan kepada warga,karena warga adalah pihak konsumen.Jika permintaan dari
warga terhadap petasan menurun maka hukum ekonomi akan berlaku.Lama kelamaan
pihak penjual akan beralih ke objek dagangan yang lain.Karena petasan nya tidak
di minati.
Tidak harus berjualan
petasan kok,kembang api yang nyata-nyata lebih meriah dan resikonya lebih kecil
juga bisa menghasilkan keuntungan yang tidak sedikit.Apalagi orang Indonesia punya
pepatah “tidak ada akar rotan pun jadi”.Tidak ada petasan kembang api pun
jadi.Kemungkinan besar istilah “membawa berkah tersendiri” yang di lontarkan
pedagang terhadap objek dagangannya yakni petasan akan beralih ke objek
dagangan “kembang api”. Kalau yang terakhir ini hanya pendapat pribadiku aja sih.
Setidaknya itulah solusi
yang bisa aku sampaikan berkaitan dengan petasan ini.Jika menginginkan petasan
dapat di tarik dari pasar,hendaknya warga masyarakat sebagai objek market lah
yang harus di beri pengarahan.
Itu aja sih yang bisa ku
posting kali ini,semoga ada manfaatnya bagi kita semua.amin dan terima kasih.